Apa Saja Dampak Negatif dari PBM Tidak dilakukan di Sekolah Secara Berkepanjangan?

dinimelajah.com – Pandemi Covid-19 hingga saat ini belum dapat dikendalikan dengan baik oleh manusia. Hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa secara mutlak melawan virus tersebut. Pembuatan obat dan vaksin masih dalam tahap uji coba karena memang proses pembuatannya membutuhkan waktu yang lama dan proses yang rumit. Jika boleh dikatakan saat ini kita masih seperti berjalan di lorong gelap yang belum diketahui ujungnya.

Efek dari berkepanjangan pandemi ini berdampak pada dunia pendidikan dimana pembelajaran dari rumah dilakukan berkepanjangan juga. Hal ini mungkin adalah solusi terbaik yang bisa dilakukan demi mengendalikan penyebaran virus. Setidaknya pembelajaran masih bisa dilakukan walaupun tidak secara langsung di satuan pendidikan.

Sisi positif dari belajar dari rumah adalah anak bisa selalu didampingi oleh orang tuanya dalam belajar. Orang tua dapat secara intent dalam mendampingi anaknya belajar. Namun di lain sisi positif, tentunya terdapat sisi negatif. Salah satunya tidak semua orang tua punya waktu untuk menemani anaknya belajar atau tidak semua pelajaran dimengerti oleh orang tua. Berbeda dengan di sekolah, dimana setiap mata pelajaran memiliki guru yang ahli di bidang itu. Nah berkenaan dengan itu, marilah kita bahas dampak-dampak negatif yang dapat terjadi dari proses pembelajaran dari rumah yang berkepanjangan.

  1. Ancaman putus sekolah. Risiko putus sekolah dikarenakan anak “terpaksa” bekerja untuk membantu keuangan keluarga di tengah krisis pandemi COVID-19.
  2. Kesenjangan capaian belajar. Perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi berbeda.
  3. Kekerasan yang tidak terdeteksi. Tanpa sekolah, banyak anak yang terjebak di kekerasan rumah tanpa terdeteksi oleh guru.
  4. Risiko “learning loss”. Studi menemukan bahwa pembelajaran di kelas menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik saat dibandingkan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
  5. Risiko eksternal. Ketika anak tidak lagi datang ke sekolah, terdapat peningkatan resiko untuk pernikahan dini, eksploitasi anak terutama perempuan, dan kehamilan remaja.

Dampak negatif tersebut dikutip dari dokumen Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 yang dikeluarkan pemerintah pada tanggal 7 Agustus 2020.

Hal lain yang secara nyata terlihat, banyak siswa tidak ikut pembelajaran daring dengan alasan tidak memiliki kuota internet atau lainnya. Ini sulit dibuktikan apakah siswa tersebut memang  tidak memiliki kuota atau malas mengikuti pembelajaran daring. Hal ini menjadi lebih sulit ketika orang tua cuek dengan situasi seperti ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *